Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika satu per satu Prejuru Desa Adat Canggu mulai berdatangan ke Bale Desa Adat Canggu pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Suasana masih sejuk, namun semangat kebersamaan sudah terasa hangat. Hari itu menjadi awal perjalanan bermakna bagi para Prejuru Desa Adat Canggu masa ayahan 2021–2026 bersama Prejuru BUPDA dan Prejuru Inti LPD dalam kegiatan Metirtayatra dan Gathering, sebuah rangkaian perjalanan spiritual sekaligus penguatan kebersamaan menjelang berakhirnya masa pengabdian lima tahunan.
Tepat pukul 06.00 WITA, rombongan berangkat meninggalkan Bale Desa Adat Canggu. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju beberapa pura suci di Bali, melainkan perjalanan batin untuk merefleksikan pengabdian, memperkuat spiritualitas, serta mempererat hubungan antar unsur penggerak desa adat.
Memulai Perjalanan Suci di Pura Gunung Raung Taro

Tujuan pertama adalah Pura Gunung Raung di kawasan Taro, sebuah pura yang dikenal memiliki nilai spiritual tinggi. Setibanya di lokasi, seluruh peserta menikmati sarapan pagi bersama. Momen sederhana ini menjadi awal kebersamaan yang terasa hangat—canda ringan, obrolan santai, dan rasa kekeluargaan yang tumbuh alami di antara para peserta.
Usai sarapan, rombongan melaksanakan persembahyangan bersama. Dalam suasana khidmat, doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur atas tuntunan dan perlindungan selama menjalankan tugas adat sejak tahun 2021. Metirtayatra ini menjadi sarana penyucian diri secara lahir dan batin, sekaligus momentum memohon keseimbangan sekala dan niskala dalam perjalanan pengabdian.
Bagi para prejuru, masa ayahan bukan sekadar jabatan, tetapi bentuk ngayah yang dilandasi tanggung jawab moral dan spiritual kepada desa adat serta masyarakat.
Menyusuri Pegunungan hingga Pesisir Bali Utara

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju kawasan Kintamani untuk beristirahat sejenak dan menikmati makan siang bersama dengan latar pemandangan alam pegunungan yang menenangkan. Kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta berbagi cerita perjalanan selama masa pengabdian—tantangan, pencapaian, hingga pengalaman berharga yang tidak terlupakan.
Dari Kintamani, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pura Pucak Bukit Sinunggal. Udara sejuk pegunungan menyambut kedatangan peserta yang kembali melaksanakan persembahyangan dengan penuh ketenangan. Di tempat ini, suasana reflektif begitu terasa, seolah memberikan ruang bagi setiap individu untuk merenungkan perjalanan pengabdian yang telah dilalui bersama.
Rangkaian metirtayatra kemudian dilanjutkan menuju Pura Ponjok Batu di wilayah pesisir Bali Utara. Persembahyangan di pura yang berada dekat laut ini menjadi penutup perjalanan spiritual hari pertama. Secara filosofis, perjalanan dari kawasan pegunungan hingga pesisir melambangkan keseimbangan alam dan kehidupan, selaras dengan nilai harmoni dalam tradisi Bali.
Malam Kebersamaan di Lovina

Setelah rangkaian persembahyangan selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lovina. Sekitar pukul 18.00 WITA, peserta tiba di hotel dan bersiap mengikuti agenda berikutnya, yaitu gathering.
Makan malam bersama menjadi pembuka suasana hangat malam itu. Tanpa sekat jabatan maupun struktur organisasi, seluruh peserta berbaur dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan. Gelak tawa, cerita pengalaman selama masa ayahan, hingga refleksi perjalanan organisasi menjadi bagian dari kebersamaan malam tersebut.
Gathering ini memiliki makna penting. Selama lima tahun masa ayahan, para prejuru dari Desa Adat, BUPDA, dan LPD menjalankan peran masing-masing dalam melayani masyarakat. Melalui kegiatan ini, hubungan personal diperkuat kembali, membangun rasa menyama braya yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan adat Bali.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para prejuru yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi kemajuan desa adat. Pengabdian yang dijalankan secara tulus membutuhkan ruang untuk dirayakan bersama sebagai wujud penghargaan moral dan kebersamaan.
Menyambut Pagi Lovina

Keesokan harinya, suasana pagi dimulai lebih awal. Sebagian peserta telah bersiap sejak pukul 04.00 WITA untuk menyaksikan lumba-lumba di perairan Lovina hingga pukul 08.00 WITA. Sementara itu, peserta lainnya memilih menikmati suasana pantai yang tenang, berjalan santai di tepi laut, atau sekadar menikmati udara pagi yang menenangkan.
Pada pukul 08.30 WITA, seluruh peserta kembali berkumpul untuk sarapan bersama sebelum bersiap meninggalkan Lovina. Tepat pukul 10.00 WITA, rombongan melakukan check-out dan memulai perjalanan pulang menuju Canggu.
Dalam perjalanan kembali, rombongan menyempatkan makan siang bersama di kawasan Bedugul. Kebersamaan masih terasa hangat, seolah perjalanan dua hari tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.
Akhirnya, sekitar pukul 16.00 WITA, rombongan tiba kembali di Bale Desa Adat Canggu dengan selamat, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Metirtayatra dan Gathering.
Meneguhkan Kebersamaan dan Spirit Pengabdian

Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan rekreasi maupun agenda seremonial. Metirtayatra dan gathering menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas, merefleksikan perjalanan pengabdian, serta menyelaraskan langkah menjelang akhir masa ayahan 2021–2026.
Melalui kebersamaan yang terbangun selama perjalanan, diharapkan sinergi antar lembaga desa adat semakin kuat, komunikasi semakin harmonis, dan semangat ngayah tetap terjaga hingga akhir masa pengabdian.
Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan bahwa kekuatan Desa Adat Canggu tidak hanya terletak pada sistem organisasi, tetapi pada rasa kebersamaan, nilai spiritual, dan komitmen kolektif seluruh prejuru dalam menjaga keharmonisan desa adat untuk generasi mendatang.


